Ujian Nasional yang dulunya bernama Ujian Akhir Nasional, Ebtanas dan sebagainya, bagi masing-masing orang yang pernah melalui nya tentu punya kenangan masing-masing. Seperti halnya dengan si togar.
Yang paling berkesan adalah Ebtanas (dulu mode on) waktu SMP. Hari pertama yang biasanya di jadwal adalah Pendidikan Kewarganegaraan dan Bahasa Indonesia. Ternyata tanpa disadari untuk tahun kami ada perubahan Jadwal. Hari pertama materinya adalah Matematika dan Bahasa Indonesia. Informan pribadiku ternyata tak memberitahukan perubahan ini. Malamnya sudah sibuk menghapal UUD 1945 dari pembukaan sampai pasal tambahan, paginya dilanjutin lagi, bahkan di jalan menuju ruang ujian masih sempat menghapal. Barulah ketika naluri matematika ku menemukan ada buku matematika yang digenggam temen yang lain, seketika itu seolah pasal demi pasal ngacir entah kemana tergantikan dengan teorema-teorema Phytagoras dan persamaan kuadrat yang njelimet. Untungnya, kemampuan Matematikaku lumayan, jadi tidak perlu grogi apalagi kencing di celana.
SMA lain lagi ceritanya. Waspada udah ok waktu itu,,,beberapa bulan sebelumnya, dah hapal dengan jadwal ujian. Tapi menjadi centre di ruangan lumayan berat. Mengingat waktu itu, pertama kalinya standar kelulusan di tetapkan, maka pihak sekolah selalu menanamkan sikap tolong menolong di ruang ujian, dan sangat diharapkan satu orang yang ditunjuk sebagai centre untuk pro aktif. Nah, sementara bergelut hebat dengan soal ujian, temen-temen dah gak sabaran minta bantuan, kan konsentrasi jadi buyar. Tapi gak apa-apa, demi kebersamaan satu kelas :). Hasil ujian pun, aku gak yakin itu nilai ujianku, soalnya aku yakin di beberapa mata pelajaran bisa sampai 80%, tapi hasilnya 3 mata pelajaran diujikan nasional hanya mendapat rata-rata enam koma sekian-sekian. Mungkin kena kasus yang pembagian nilai kali ya, bantu temen yang nilainya kurang dari 4,00, semoga saja, kalo benar, gak apa-apa, demi temen-temen.
Dan, bagaimana dengan anda?